TAFSIR ATH-THABARI

 Tafsir Al-Tabari atau Tafsir Ath-Thabari dengan kitab Injil yang berjudul "Jami 'Al-Bayan Fi Ta'wil Al-Quran" yang disusun oleh Imam Abu Ja'far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Kitab ini merupakan kitab tafsir utama awal dari Al-Quran karena bertahan dalam bentuk tergores.

Biografi Imam Ath-Thabari

Nama lengkapnya Muhammad bin Jarir bin Yazid ath-Thabari, atau biasa dipanggil Abu Ja'far, dan dikenal dengan nama ath-Thabari karena dinisbatkan ke nama tanah kelahirannya Thabaristan. Beliau adalah seorang ahli fikih, sejarawan, ahli tafsir (mufasir), dan memahami sunah serta ilmu Alquran.Imam ath-Thabari lahir pada 224 Hijriyah. Tempat kelahirannya di Amil, ibu kota Thabaristan di Persia (Iran). Syekh Muhammad Sa'id Mursi dalam buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah menggambarkan sosok Imam ath-Thabari antara lain kulitnya berwarna coklat, badannya tegap tinggi, dan matanya lebar. Beliau salah seorang ilmuwan yang sangat membantu dalam pencapaian tingkat tertinggi dalam ilmu ilmu, antara lain fiqih (hukum Islam) sehingga pendapat-pendapatnya terhimpun dinamai Mazhab Al-Jaririyah.

Hidup dilingkungan yang mendukung penuh karir intelektual Ath-Thabari, tidak heran jika waktu usia 7 tahun sudah hafal Al-Quran. Hal tersebut pernah terjadi oleh Ath-Thabari Aku telah menghafal al-Qur'an ketika berusia tujuh tahun dan menjadi imam shalat ketika aku berusia delapan tahun serta mulai menulis hadis – hadis nabi pada usia sembilan tahun.

Ath-Thabari hidup pada masa keemasan Islam, yaitu semasa pemerintahan Daulah Abbasiyah (750-1242 M) yang berpusat di Baghdad. Ketika at-thabari lahir, yang menjadi penguasa saat itu adalah al-Wasiq Billah atau Harun bin Muhammad al-Mu'tasim yang diangkat sebagai khalifah ke-9 (842-847 M). Jika dit lebih menelusuri, selama hidupnya ath-Thabari pernah mengalami 10 kali pergantian khalifah hingga khalifah ke-18, yaitu al-Muqtadir, yang berlaku mulai 908-934 M.

Para guru Ibn Jarir Ath-Thabari arus arus Adz-Dzahabi yaitu: 6 Muhammad bin Abdul Malik bin Abi asy-Syawarib, Ismail bin Musa as-Sanadi, Ishaq bin Abi Israel, Muhammad bin Abi Ma'syar, Muhammad bin Hamid ar-Razi , Ahmad bin Mani ', Abu Kuraib Muhammad bin Abd al-A'la Ash-Shan'ani, Muhammad bin al-Mutsanna, Sufyan bin Waqi', Fadhl bin Ash-Shabbah, Abdah bin Abdullah Ash-Shaffar, dan lain-lain .

Sedangkan muridnya yaitu: Abu Syu'aib bin al Hasan al Harrani, Abu al Qasim at-Thabrani, Ahmad bin Kamil Al-Qadhi, Abu Bakar Asy- Syafi'i, Abu Ahmad Ibn Adi, Mukhallad bin Ja'far al Baqrahi, Abu Muhammad Ibn Zaid al-Qadhi, Ahmad bin al-Qasim al-Khasysyab, Abu Amr Muhammad bin Ahmad bin Hamdan, Abu Ja'far bin Ahmad bin Ali al-Katib, Abdul Ghaffar bin Ubaidillah al Hudhaibi, Abu al Mufadhdhal Muhammad bin Abdillah Asy -Syaibani, Mu'alla bin Said, dan lain-lain.

Karya karya Imam Ath-Thabari adalah adalah Jami al-Bayan Fi Tafsir Alquran yang dikenal dengan sebutan Tafsir ath-Thabari, dan Tarikh al-Umam wa al-Muluk yang dikenal dengan Tarikh ath-Thabari.

Selain itu, Imam ath-Thabari juga menulis Tahdzib al-Atsar wa at-Tafdhil ats-Tsabit; Ikhtilaf al-Ulama al-Amshar Fi Ahkam Syara’i al-Islam, yang lebih dikenal dengan Ikhtilaf al-Fuqaha; Dzail al-Mudzil; Lathif al-Qaul Fi Ahkam Syara’I al-Islam, yang merupakan kitab fikih mazhab Jaririyah; Adab al-Qudhah; Al-Musnad al-Mujarrad, Al-Qiraat wa Tanzil Alquran; Mukhtashar Manasik al-Hajj, Al-Mujiz fi al-Ushul, dan Musnad Ibnu ‘Abbas.

Tafsir Ath-Thabari

Tafsir Ath-Thabari ini terdiri dari 30 jilid, masing-masing berukuran tebal. Pada mulanya tafsir ini pernah hilang, namun kemudian Allah menakdirkan muncul kembali ketika didapatkan satu naskah manuskrip tersimpan dalam penguasaan seorang amir yang telah mengundurkan diri, Amir Hamud bin ‘Abdur Rasyid, salah seorang penguasa Nejd. Tidak lama kemudian Kitab tersebut diterbitkan dan beredar luas sampai ditangan kita, menjadi ensiklopedi kaya tentang tafsir bil ma’tsur.

Tafsir ath-Thabari adalah tafsir yang paling tua yang sampai kepada kita secara lengkap. Sementara tafsir-tafsir yang mungkin pernah ditulis orang sebelumnya tidak ada yang sampai ke kita kecuali hanya sedikit sekali. Itu pun terselip dalam celah-celah tafsir ath-Thabari tersebut.

Dalam Muqaddimah kitabnya telah dijelaskan bahwa ia memohon pertolongan Allah agar menunjukkan pendapat yang benar dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an; mengenai ayat yang muhkam dan mutasyabih, perkara halal dan haram, umum dan khusus, global dan terperinci, nasikh dan mansukh, jelas dan samar, dan yang hanya mnerima penakwilan atau penafsiran.

Ath-Thabari sangat bersungguh sungguh dalam menjelaskan semua perkara itu, hal ini terlihat dalam setiap bagian kitabnya, dimana ia meneliti dengan sangat sabar setiap hadis dan atsar yang menyangkut penafsiran setiap ayat Al-Qur’an, tanpa pernah lalai mengungkapkan asbab nuzul-nya, hukum-hukum, Qira’at, dan beberapa kalimat yang maknanya perlu dijelaskan lebih detail. Semua itu dilakukannya dalam rangka mewujudkan sebuah kitab tafsir yang lebih sempurna dari yang pernah ada sebelumnya, hingga memenuhi kebutuhan seluruh manusia.

Keinginannya untuk menambahkan ilmu baru menjadikan Kitab tafsirnya makin kuat dan kaya. Di mana seorang pembaca akan menemukan ilmu baru yang tidak ditemukan pada buku yang lain. Hal ini tampak jelas pada gaya tulisan at-Thabari yang selalu melakukan perbandingan-perbandingan, dengan ungkapannya yang sangat masyhur seperti:” pendapat yang benar dalam hal itu menurutku adalah....” atau”menurut kami”. Atau mengatakan,”pendapat yang paling benar diantara dua pendapat ini” atau “diantara pendapat-pendaat yang ada adalah..”atau mengatakan,”... dan qira’at yang aku pilih adalah...” dan seterusnya.

Metode Tafsir At-thabari

Tafsir ini menggunakan metode tafsir analisis (tahliliy), sebab penafsirannya berdasar pada susunan ayat dan surat sebagaimana dalam urutan mushaf al-Qur’an. Berikut merupakan metode yang digunakan oleh ath-Thabari dalam tafsirnya

1. Menempuh jalan tafsir dan atau ta’wil.

Ketika akan menafsirkan suatu ayat, at-Thabari selalu mengawali dengan kalimat القول فى تأويل قوله تعالى. Kemudian, barulah menafsirkan ayat tersebut.

 2. Menafsirkan al-Qur’an dengan sunah/hadis.

Ath-Thabari dalam menafsirkan suatu ayat selalu menyebutkan riwayat-riwayat dari para sahabat beserta sanadnya.

3. Melakukan kompromi antar pendapat bila dimungkinkan, sejauh tidak kontradiktif dari berbagai aspek termasuk kesepadanan kualitas sanad.

4. Pemaparan ragam qira’at dalam rangka mengungkap makna ayat.

Ath-Thabari juga menyebutkan berbagai macam qira’at dan menjelaskan penafsiran dari masing-masing qira’at tersebut serta menjelaskan hujjah dari ulama qira’at tersebut.

5. Menggunakan cerita-cerita Israiliyat untuk menjelaskan penafsirannya yang berkenaan dengan sejarah.

Ath-Thabari dalam penafsiran al-Qur’an yang berkenaan dengan sejarah menggunakan cerita-cerita Israiliyat yang diriwayatkan dari Ka’ab al-Ahbar, Wahab ibn Munabbih, Ibn Juraij dan lain-lain.

6. Mengeksplorasi syair dan prosa Arab lama ketika menjelaskan makna kata dan kalimat.

7. Berdasarkan pada analisis bahasa bagi kata yang riwayatnya diperselisihkan.

Ketika ath-Thabari mendapati kata dalam suatu ayat ada perselisihan antar ulama nahwu, beliau menjelaskan kedudukan kata tersebut menurut tiap-tiap mazhab dengan memperhatikan aspek i’râb dengan proses pemikiran analogis untuk ditashîh dan ditarjîh serta menjelaskan penafsirannya.

8. Menjelaskan perdebatan di bidang fiqh dan ushul fiqh untuk kepentingan analisis dan istinbath hukum.

Ath-Thabari selalu menjelaskan perbedaan pendapat antar mazhab fiqh tanpa mentarjih salah satu pendapat dengan pendekatan ilmiah yang kritis.

9. Menjelaskan perdebatan di bidang akidah.

Terkait dengan ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah  akidah, ath-Thabari menjelaskan perbedaan pendapat antar golongan.

Sumber Penafsiran

Sumber-sumber penafsiran ath-Thabari menurut Khalil Muhy al-Din al-Misi di dalam Muqaddimah Jami’ al Bayan ini meliputi riwayat atau al ma’surat dari Rasulullah saw, kemudian pendapat sahabat atau tabi’in, juga penafsiran bi al ma’tsur dari kalangan ulama pendahulunya khususnya dalam merujuk persoalan nahwu, bahasa atau pun qiraah . Mashadir lainnya adalah pendapat fuqaha dengan mensikapinya secara kritis, kemudian dalam bidang sejarah menggunakan kitab-kitab tarikh seperti karya Ibn Ishaq dan lainnya. Walaupun dalam tafsir Ath-Thabari terdapat penalaran yang digunakan, namun tafsir ath-Thabari termasuk yang menggunakan corak bil-ma’tsur yang sebagian besarnya menggunakan riwayat.

Dengan ini Ath-Thabari telah menempuh langkah metodologis yang sangat penting, dimana tafsir bukan hanya berisi penjelasan tentang riwayat-riwayat dan atsar, melainkan telah bercampur dengan kajian analisa yang tidak keluar dari jalur kebenaran, itu semua dilakukan dengan mengkaji 'illah, sebab- sebab dan qarinah (sisi indikasi dalil).

Pandangan Ulama Kepada Imam Ath-Thabari

Imam Thabari bukan berasal dari keluarga yang mapan atau kaya . Hal ini bisa dibuktikan dengan bekal dari orang tua yang ketika dicuri ia tidak dapat menggantinya lagi. Begitujuga kisah kelaparan yang dia alami selama di Mesir dan kiriman orang orang tua yang dikirim terlambat, sehingga ia menyatakan telah menjual pakaiannya.Namun dengan keterbatasan ekonomi tersebut tidak melunturkan semangat Imam Thabari dalam menuntut ilmu.

Banyak ulama yang datang dari Ath-Thabari Mereka berkata: Dia adalah seorang 'alim yang tsiqah (tidak bisa percaya), salah satu imam besar Ahlus Sunnah, pendapatnya diambil, dan keluasan ilmunya dijadikan referensi, dan memiliki manhaj yang lurus. Dia meninggalkan sejumlah karya yang bermanfaat, yang paling terkenal adalah kitab tafsir besar, Jami 'Al Bayan' fi Ta'wilil ai Quran, dan kemampuan ulama mengenalnya dengan sebutan Tafsir Ath-Thabar. Ini merupakan tafsir lengkap pertama yang sampai kepada kita, dan setiap mufassir yang datang setelahnya telah mengambil manfaat. Oleh karena itu, para ulama sebagai disebut Bapak Tafsir, dia juga disebut Bapak Sejarah, dia memiliki karya besar dalam bidang sejarah yang tidak pernah ada manusia yang membuat semisalnya, kecuali karya sebelumnya tidak bisa dipegang secara meyakinkan. Kitab tersebut diberi judul Tarikhul Umam wal Muluk. Dia juga membuat karya, Tahdzibul Atsar, dan lain-lain. Beliau wafat di Baghdad pada tahun 310 H.


referensi :

Tafsir al-Qur‟an: Sejarah Tafsir dan metode para mufassir (Jakarta: Gaya Media, 2007)

http://www.alsofwah.or.id/cetaktokoh.php?id=270

https://www.academia.edu/32338666/Makalah_at-Thobari

 

Komentar